Cinta Palsu
Sebagian besar hubungan didasarkan pada kerinduan untuk dicintai bukan mencintai. Semakin banyak yang di dapat biasanya tak akan merasa pernak cukup, semakin dalam kerinduan itu tumbuh. Banyak orang memandang pengalaman akan kebutuhan, ketergantungan, kepemilikan, ketidaklengkapan atau kontrol sebagai cinta.
Keinginan akan orang lain dan perasaan intens yang dibangkitkanya merupakan dasar dari banyak hubungan. Tidak sulit untuk melihat bahwa berbagai perasaan ini sesungguhnya tidak didasarkan pada cinta, sebab orang yang terperangkap dalam jaring itu mulai berjuang mendapat kekuasaan, kendali, atau penegasan, begitu cinta berubah menjadi benci dan kemudian penolakan. Bahkan pada saat kita mengira memilikinya, hati kita yang lapar tetap tak terpuaskan.
Banyak orang merasa bahwa mereka telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya dan tidak tahu kemana perginya atau bagaimana untuk mendapatkan kembali. Mereka yakin akan menemukannya saat mereka menemukan orang atau hubungan istimewa yang akan mengusir kesepian dan mengisi hati yang kosong. Jeda sejenak tidak akan pernah memberi apa yang benar benar mereka dambakan. Cepat atau lambat mereka akan merasa sendiri lagi. Semakin jauh mereka mencari cinta di luar diri mereka dan semakin mereka mengira telah menemukannya, semakin dalam kesepian tumbuh.
Saat hubungan berakhir, atau jika seseorang mengalami kesulitan dalam mencari atau mempertahankan pasangan cinta, keraguan dan ketakutan mulai timbul. Pertanyaan dalam diri muncul, seperti; apakah saya pantas dicintai? Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat diri saya lebih dicintai, lebih menarik? Beragam cara akan dilakukan untuk meyakinkan dirinya sendiri dan orang lain bahwa ia adalah orang yang berarti, dicintai, diperhatikan, dan dikagumi, bahwa ia tidak gagal dalam pencarian hal yang paling berharga dalam hidup ini yakni dicintai, cinta palsu.
Salam Damai
-tulisan ini juga sudah juga dimuat di FB: Gusti Ngurah Made-

No comments:
Post a Comment