Saturday, June 21, 2014

Fokus Pikiran

Segala sesuatu adalah bagian dari ciptaan dan mengandung semua aspeknya. Dalam tiap-tiap ciptaan, hakikat Tuhan berada -kemampuan untuk tumbuh, untuk mendapat pencerahan. Mengapa harus ada hal yang ditolak? Semakin garang kita memisahkan dan membatasi dunia dengan pikiran dualitas kita, dan semakin hebat kita melabeli, membagi, dan membuat kategori, semakin terbatas pengalaman hidup kita jadinya. Kita menjadi tawanan dalam penjara yang kita buat sendiri dan memenjarakan orang lain di dalamnya juga.

Dalam mengatasi kemarahan, kita kembali untuk bertanya pada diri sendiri. Biasanya kita memusatkan perhatian kita pada kesalahan yang telah dilakukan orang pada kita, bagaimana kita telah dikhianati atau difitnah. Kalau kita mengendalikan fokus pikiran kita, dan menyadari bagaimana kita mungkin telah secara tidak sengaja melukai hati orang lain, atau menyebabkan kesulitan bagi mereka, kemarahan dan rasa benar sendiri kita lenyap. Sebaliknya kita menjadi sangat ingin memperbaiki kesalahan kita. Bukan bermaksud untuk menciptakan rasa bersalah, tetapi untuk mengarahkan fokus kita dari sudut pandang kita biasanya.

Seperti membesarkan anak, jika mereka tumbuh secara tidak benar maka kita tidak akan menyalahkan mereka tetapi diri kita sendiri yang merawat dan mendidiknya tidak baik. Inilah cinta sejati, keinginan untuk mencintai dengan tulus dan ikhlas tanpa ada harga yang harus dibayar jikapun ada yang tidak berjalan dengan baik maka kita akan mencarinya ke dalam bukan keluar. hal ini akan berbeda dengan keinginan untuk dicintai.

Salam Damai

Friday, April 11, 2014

Bahagia Saat Ini

Kita tidak akan bisa menikmati kehidupan jika kita menghabiskan banyak waktu untuk mengkhawatirkan apa yang telah terjadi kemarin dan apa yang akan terjadi besok. Jika kita takut sepanjang waktu, kita tidak akan pernah memahami bahwa kita semestinya hidup dan bahagia saat ini. Kecendrungan orang mencoba mencari hal-hal yang membuat kita merasa lebih mantap, lebih aman dan lebih terjamin. Tetapi sepanjang waktu kita mencemaskan apa yang akan terjadi di masa depan. Kita takut kehilangan pekerjaan kita, harta kita, orang-orang yang kita cintai. Kita menantikan momen ajaib ketika segala sesuatunya akan terjadi seperti yang kita inginkan terjadi. Kita melarikan diri dari peristiwa yang sedang terjadi di depan mata.

Mengutip bahasa seorang guru, 'we can be prosper at any level of income'. Seperti matahari tidak peduli apa kata orang, walaupun tertutupi awan dia akan tetap terbit esok pagi untuk menyinari dunia. Perhatikan ikan yang hidup di air, burung yang terbang di udara. Ikan tidak menyebut burung bodoh karena tidak mengenal kehidupan dalam air, burung tidak menyebut ikan kurang wawasan karena tidak terbang kemana-mana. Keduanya bahagia apa adanya. Kebanyakan orang beranggapan kedamaian baru diperoleh setelah keinginan terpenuhi. Tetapi ketika keinginan yang satu terpenuhi maka muncul keinginan yang kedua dan begitu seterusnya. Ternyata sangat sedikit sekali yang menemukannya dengan cara ini. Keinginan yang lain akan muncul setelah keinginan pertama terpenuhi. Tidak perlu mencari kebahagian, kedamaian kemana- mana, ada peluang itu di setiap langkah kehidupan. Bila kita bisa menjaga jarak yang sama antara sanjungan, suka cita dengan cacian dan makian, sedih dan duka. 

Semua telah sempurna apa adanya tidak ada yang perlu dirubah. Menghakimi dengan benar atau salah, baik dan buruk akan membuat semakin jauh dan semakin tenggelam dalam dualisme yang tidak akan pernah berakhir.  Dengan bisa senyum pada setiap kejadian maka anda sudah menjadi tuan bukan korban kehidupan. Salah seorang guru mengatakan: "Aku sudah tiba, aku berada di rumah, di sini, saat ini."