Thursday, March 3, 2011

Nyepi Untuk Melihat Kedalam


Hari Raya Nyepi adalah perayaan pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa (Bulan Sepuluh). Atau mungkin Nyepi juga bisa disebut sebagai Hari Raya Tahun Baru

Pada hakekatnya Hari Raya Nyepi bermaksud untuk penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).

Hari Raya Nyepi dilatar belakangi dengan penobatan Raja Kaniskha I dan dinasti Kushana pada tahun 78 Masehi yang sekaligus diresmikannya tahun baru çaka
Menurut Negarakertagama, pada zaman Majapahit pergantian tahun çaka (bulan Caitra ke Waisaka) dirayakan secara besar-besaran.

Dalam keheningan dan kesenyapan hari suci Nyepi, kita mengadakan introspeksi diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakekat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Melihat kedalam apa yang telah kita perbuat dalam satu tahun untuk mempersiapkan diri memasuki tahun yang akan datang. Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, adalah saatnya keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.

Rangkaian kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi

Melasti

Melasti disebut juga melis atau mekiyis bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran alam, pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Pelaksanaan melasti ini dapat dilakukan beberapa hari sebelum tawur.

Tawur

Upacara tawur bertujuan untuk menyucikan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit baik sekala (alam nyata) maupun niskala (alam tidak Nyata). Upacara ini dilakukan pada sandikala (pagi, tengah hari, sore). Tilem Caitra, sehari sebelum hari raya Nyepi. Pelaksaanaan tawur juga disesuaikan dengan desa, kala dan patra (tempat, waktu dan keadaan)

Ngerupuk adalah lanjutan daripada pelaksanaan tawur yang dilaksanakan di tiap- tiap pekarangan rumah. Biasanya dibuat ogoh-ogoh sebagai simbolis dari energi / kekuatan yang diarak keliling wilayah banjar/adat dan kemudian dibakar.

Nyepi

Pada hari Nyepi, tanggal 1 sasih kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi. Ada empat pantangan (Catur Berata Nyepi) yang wajib dilaksanakan yaitu:

1. Amati Geni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.

2. Amati karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.

3. Amati lelungaan, yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri.

4. Amati lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi.

Berata ini ini dilakukan mulai saat matahri terbit sampai matahari terbit kembali keesokan harinya.

Ngembak Geni

Keesokan harinya disebut hari raya Ngembak Geni, adalah hari bermaaf-maafan dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan. Kegiatan ini juga disebut Dharma Santi. Pelaksanaan dharma santi juga bisa dilakukan dalam beberapa hari setelah hari Nyepi dalam tujuan untuk mengucapkan selamat tahun baru dan terbinanya kerukunan dan perdamaian baik dilingkungan keluarga sendiri, tetangga dan masyarakat, kelompok atau organisasi. Biasanya dilakukan dalam bentuk dharma wacana, dharma gita (lagu- lagu keagamaan/ kidung, kekawin, pembacaan sloka), dharma tula (diskusi) persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan, serta memberikan punia (sumbangan) kepada yang patut menerimanya,

Nyepi mengajarkan untuk melihat ke dalam, introspeksi diri bukan untuk menyalahkan atau mencari kesalahan orang lain, hanya berkaca pada diri sendiri. Yang dibutuhkan adalah keselarasan dan kesimbangan atau harmonisasi dengan alam untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dalam kedamaian, belajar mencintai sesama seperti diri sendiri. Di jaman sekarang ini sulit kita bisa menemukan kesadaran seperti ini. Joko Charlotte Beck dalam bukunya Everyday Zen yang saya kutip dari buku Zen Wisdom mengatakan, “Kesadaran sesungguhnya sangat sederhana: kita tidak harus menambahkan apapun kedalamnya untuk mengubahnya. Kesadaran itu sederhana dan bersahaja; ia selalu seperti itu. Kesadaran bukanlah benda, yang dipengaruhi oleh ini atau itu. Jika hidup dari kesadaran murni, kita tidak terpengaruh oleh masa lalu, masa kini, atau masa depan kita. Karena tidak dapat berpura-pura, kesadaran sederhana. Kesadaran itu serbabiasa. Apa adanya.”

Selamat Hari Raya Nyepi çaka 1933, semoga kesejahteraan dan kedamaian selalu bersama.

Salam

Ngurah.

No comments:

Post a Comment