Tuesday, November 17, 2009

Hepi Life

“Hidup ini sudah digariskan oleh Tuhan”. wahh kalau begitu kita tidak perlu usaha keras hanya mengikuti garis-Nya saja pasti akan ketemu ujungnya... ungkapan ini akan memancing argumen nakal saya seperti di atas.

Hidup di dunia tidak sendiri seperti bangsa ini terbentuk. Coba kita lihat ke belakang, tanpa maksud untuk mengajak anda bernostalgia. Sejarah terbentuknya bangsa ini yang tercipta dari beraneka ragam suku ras dan agama yang hidup dengan kebiasaan masing-masing, terbentang dari swarna Dwipa (pulau Sumatera), Jawa Dwipa (pulau Jawa), Bali Dwipa (Bali) Tanjung Pura (pulau Kalimantan), Sulawesi, Irian yang mungkin dulu wilayahnya lebih luas dari Indonesia sekarang seperti yang banyak ditulis dalam buku-buku sejarah. Bila kita sekarang masih pusing memikirkan segala perbedaan apalagi mencoba menjadi hakim atas perbedaan tersebut tanpa melihat ke dalam diri masing-masing, cape deh ”apa kata dunia?” seperti iklan di tv.

Dari sini saya mau berbagi dengan temanz semua tentang hepi life ala saya. Meminjam istilah Pak Gede I intend good, I do good and I am good. Stop comparing let life lead you. Jika anda ingin jadi orang baik lakukan yang terbaik hari ini maka anda menjadi orang baik. Dengan menjadi diri sendiri maka akan merasakan kehidupan yang paling indah. Biarkan kehidupan ini mengalir apa adanya menuju yang terindah yaitu diri sendiri. Ketika kita telah menemukan yang terbaik dalam diri kepercayaan diri pun muncul, tidak ada lagi kecemasan dalam menjalani kehidupan ini. Seperti bayi yang hanya dengan menangis (yang hanya bisa dilakukan pada saat itu) bisa membawa dirinya tumbuh dan berkembang tentunya dengan segala bantuan dan kasih sayang bapak-ibu-nya sampai bisa hidup mandiri.

Memandang kehidupan mirip seperti matahari, yang pasti akan terbit pada pagi hari tanpa menghiraukan langit tertutup mendung, hujan atau badai, orang suka atau tidak suka dia akan terbenam menjelang malam dan terbit kembali esok harinya. Berjalan direlnya sendiri untuk menyinari, memberi kehangatan seisi dunia. Itu dia lakukan terus menerus sepanjang hari. Kita hendaknya membiarkan hidup ini mengalir seperti matahari, berjalan di jalan sendiri memberi kehangatan. Alangkah indahnya dunia jika kita bisa seperti matahari berjalan di jalan masing-masing tapi keluar memberikan kehangatan keindahan yang terbaik dari diri kita. Tidak ada lagi perdebatan tentang perbedaan tidak ada lagi penghakiman kepada yang berbeda. Saya sedih melihat ketika ada yang memiliki keyakinan berbeda dihakimi oleh orang-orang yang seolah-olah seperti ’Tuhan’ yang bisa menentukan itu salah atau benar, dosa atau tidak dosa, sesat tidak sesat.

Hidup penuh warna berdampingan dengan harmonis seperti Antonia Blanco, Leonardo Davinci membuat lukisan dengan berbagai warna yang jadi melegenda dan jika kita hilangkan salah satu warnanya juga akan melenyapkan makna lukisan tersebut.

Kebencian, kesombongan, kecemasan, iri hati dan sejenisnya adalah kekuatan yang luar biasa yang akan membawa kita semakin tengelam ke dalam lubang kehidupan yang gelap dan semakin jauh dari kehidupan yang indah dan bahagia apalagi yang namanya kedamaian. Tidak perlu dibahas panjang lebar tentang hal ini karena semua sudah pasti memahaminya

Kita semua sama berjalan diatas yang namanya kehidupan menuju satu tujuan yang hampir sama hanya mungkin penyebutannya yang berbeda. Berjalan di jalan masing-masing menjadi diri sendiri keluar memberi kehangatan, memberi yang terbaik dari diri kita untuk semua yang ada disekitar kita. Menghormati mereka yang punya perbedaan dan bukan mencoba membuat mereka menjadi seperti kita atau memaksa untuk mengikuti kita. Disinilah kita akan menemukan indahnya perbedaan. Di dalam beda kita menemukan keindahan dan kebahagian.

Maafkan tulisan saya ini hanyalah sekedar rangkaian kata-kata yang hanya bisa menghantar sampai di gerbang, hanya tindakanlah yang bisa menghantar anda sampai ke dalam.

Salam Damay

Ngurah ’Hepi’

No comments:

Post a Comment