Tuesday, December 8, 2009

Tri Hita Karana Concept for Life

In addition of this three concepts cosmogony, it is also own contextual with Hindu Religion Concept, which is called Tri Hita Karana (three of the harmony, balance to create the peaceful and happiness). Tri Hita Karana word is come from Sansekerta Language that has meaning to keep the harmony and balance between human to God, human-to-human and human to environment. These three concepts is most popular in Bali spread out as follows:

PARHYANGAN

Parhyangan is one of the three concept related to the god. On this stage, the human is demanded to keep the harmony and balance with god. This concept has huge meaning where the Balinese discipline and full confidence to do this. It is not only including to pray at the temple, however it is cover all the activities which has a good thing in the life like build the temple, cleaning the temple, keep the religion symbols well a lot of thing we can do on this concept.

PAWONGAN

Pawongan in this concept is required to keep the harmony and balance between human to human and this concept has emphasized how to keep good relation with others. The simple ways to execute the implementation of this concept are to conduct three good things like to think the good thing, to speak the good thing and to conduct the good thing. By conducting three good things that is called Tri Kaya Parisuda, it is ensure we can conduct this concept.

PELEMAHAN

Palemahan, this word is come from lemah that is meaning the land or environment. Generally the Pelemahan in Tri Hita Karana is all aspect related to the environment. Base on this concept the Balinese has treated the environment well and they believe that the good environment will give their life better. Once example the Balinese treat the environment that on the Tumpek Uduh based on the Balinese calendar, the Balinese give the offering to the tree with the purpose that the tree has given them prosperity and a lot of thing they can do to keep the harmony and balance with the environment.

www.balistarisland.com

Wednesday, December 2, 2009

Jagadhita Ya Caiti Dharma

Moksartham Jagadhita Ya Citi Dharma is the goal of life for Hinduism.

Hindu Dharma or Agama Hindu is the name of the religion followed by 95% of the 3.5 million people of Bali. The remaining 5% practice a mixture of faiths: Islam, Catholic, Protestant, Buddhism, and Kong Hu Cu.

The aim of the Hindu Dharma is “to reach peace of spirit and harmony in the material life”. (Moksartham Jagadhita Ya Caiti Dharma - The goal of life is liberation from material attachment) In practicing their faith, Hindu communities try to achieve a spiritual balance of worship between:

Tattwa (Philosophy), Susila (Etiquette), and Upacara (ritual).

In Bali religion is taught in many forms the most popular if these are the Purana, or morality plays, and the Ramayana and the Mahabrata. The many theatre forms – the wayang shadow puppet plays, the masked drama, the opera and ballets are also vehicles of religious teaching.

The island of Bali is full of spirituality and love, the love that spends an hour making an offering of woven palm leaves and flowers, the love that finds the time everyday to think of their spirituality, and the whispering of a mantra with sacred movements.

On this island there is a link to enlightenment, The Balinese feel themselves to be a blessed people, a feeling continually reinforced by the wealth of their everyday life, and strengthened by the splendor of their religion. It is almost as if the Balinese people are living the art of continually worshiping. To the Balinese, Bali is the only “real” world and the sacred mountain Gunug Agung is the “navel of the world”.

The Pedanda, (high priest), selected from the Brahmana castel, officiates at large ceremonies. The Pemangku, or village temple priest, looks after the temple and leads the holy rituals.

As well there is an important code of Hindu Dharma called Tat Twam Asi – “You are as I am” and I as you, in other words, “to feel the feeling of one’s fellow beings”. This teaches to treat others as you would treat yourself.

Tuesday, December 1, 2009

Sejarah Pariwisata Bali

Sejak pulau Bali diketemukan oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1579 seorang ekspedisi dari Belanda dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah hingga sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar ke timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah. Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaan yang menurut mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai ditempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan memiliki daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada raja mereka pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God)

Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali seperti:

Seniman sastra yitu Dr. Gregor Krause adalah seorang orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali pada tahun 1921 yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyear keseluruh dunia yang bersangkutan tinggal di Bangli. Miguel Covarrubias dengan bukunya the Islan of Bali tahun 1930, Mrs. Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise, Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali menetap di Bali tahun 1928, Lovis Conperus (1863-1923) Easwords (Melawat Ke Timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani.

Sementara seniman lukis diantaranya: R. Bonet mendirikan museum Ratna Warta, Walter Spies bersama Tjokorde mendirikan yayasan Pita Maha. Di samping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku Dance dan Drama in Bali. Pertama kali ke Bali tahun 1925. Arie Smith yang membentuk aliran young artist. Le Mayeur orang Belgia mengambil istri di Bali tinggal di Sanur tahun 1930 dengan Museum Le Mayeur di Bali. Mario Blanco orang Spanyol juga seorang pelukis beristrikan orang Bali dan menetap di Ubud.

Dan banyak lagi seniman baik asing maupun Nusantara disamping menetap, mengambil objek baik lukisan maupun tulisa mengenai Bali. Dan tulisan-tulisan mengenai Bali mulai tahun 1920 sudah menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika.

Para wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya.

Untuk menampung kedatangan wisatawan asing maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak dijantung kota Denpasar, di samping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan Kintamani.

Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.

Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Bebagai julukan diberikan kepada Bali antara lain:

The Island of Gods

The Island of Paradise

The Island of Thousand Temples

The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru

The Last Paradise on Earth

dan lain sebagainya.

Kesemarakan pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 – 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942 – 1945 dan dilanjutkan dengan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahu 1942 – 1949.

Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang). Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan International. Demikian seterusnya kepariwisataa di Bali semakin berkembang hingga sampai sekarang.

Sumber: Bisnis Bali

EXOTIC BROMO

Satu tempat yang masih tersisa ditengah gempuran gedung beton pencakar langit bisa kita nikmati dengan udaranya yang segar, nuansa alam yang mempesona dan suasana kehidupan sedehana dari penduduk setempat. Akan memberikan pengalaman baru yang tak akan bisa telupakan bagi temanz yang sudah akrab dengan suasana kota yang penuh dengan persaingan dengan segala intrik politik dan rasa curiga.

Perjalanan saya kali ini penuh inspiratif dan mengingatkan kembali akan posisi kita saat ini akan suatu tulisan yang penuh makna ’journey within’. Berangkat sekitar jam 2.30 dari Surabaya dengan harapan dapat menyaksikan sunrise dari puncak gunung. Dalam perjalanan empat temanz saya yang lain sibuk ngobrol tentang segala macam yang dapat mengusir rasa ngantuk dari kegiatan sehari-hari sampai kondisi bangsa Indonesia kedepan yang penuh korupsi ada juga yang melanjutkan tidur yang terputus sejak jam 02 tadi.

Begitu memasuki tempat pemberhentian mobil, suasana Bromo begitu terasa saat turun dari mobil udara dingin yang menembus tulang mulai menyelimuti. Ketika sampai ditempat tujuan matahari sudah menampakkan diri penuh dari puncak bukit disekeliling. Satu hal sudah terlewat, sunrise yang semula ingin kita lihat. Namun tidak sampai disini segalanya telah berakhir tapi sesuatu yang lebih indah telah menanti. Di kejauhan terlihat puncak Gunung Merbabu yang mengeluarkan asap membubul ke angkasa, deretan bukit yang kelihatan biru terlihat lebih indah dengan terpaan sinar matahari pagi yang mulai menebarkan kehangatan. Awan putih terlihat seperti air yang mengalir diantara bebukitan. Sungguh pemandangan yang indah sekali yang disuguhkan oleh alam. Seakan tidak ingin melewatkan momen indah ini dengan kamera setia saya jepret sana jepret sini terkadang minta tolong kepada pengunjung yang lain untuk mengambil gambar sekeliling.

Bersyukur sekali saya dapat diberikan kesempatan untuk menyaksikan semua ini. Dalam hati saya terbesit bahwa kita adalah bagian yang sangat kecil sekali dibandingkan dengan alam, keindahan yang disajikan, Tuhan telah menciptakannya dengan sempurna. Tidak ada seorangpun yang dapat mencampurinya ataupun sekedar ’menghakiminya’ dengan menyatakan ini benar atau salah, sah atau tidak sah, Dia akan terus berjalan seperti berubahnya waktu dari hari ke hari, tahun ke tahun, masa ke masa.

Seakan air sejuk pegunungan menyirami tubuh ini setelah berada di tengah hamparan pemandangan yang yang menakjubkan, exotic Bromo telah membuka hati ini untuk melihat kembali hakikat hidup ini untuk melihat kembali kedalam diri masing-masing. Diri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebesaranNya, tatkala rasa angkuh, sombong besar diri, rasa cemas, takut dan sejenisnya yang terkadang menghampiri di keidupan kita akan lenyap sirna ketika kita berada ditengah alam seperti Bromo ini.

Semoga pesan dari Bromo ini bisa meluas di kehidupan masyarakat kita.

Salam Damai

Ngurah

Sembilan Bulan Telah Berlalu

Tepat tanggal 18 Desember 2007 penantian lama saya telah berakhir dengn sebuah kebahagian yang tak terungkapkan dengan kata apapun. Sebuah ungkapan yang dapat melukiskan semuanya hanya syukur, terima kasih Tuhan. Anak pertama saya telah lahir dengan selamat dan sehat demikian pula dengan bundanya yang telah melewati persalinan dengan selamat, walaupun masih harus melewati masa pemulihan pasca operasi.

Sekaligus ini menjadi titik awal untuk tugas kami selanjutnya, semoga kami dapat melewatinya seperti pada masa persalinan yang berjalan dengan lancar. Menjadi orangtua yang baik dan memberikan cinta, kasih sayang yang melimpah kepadanya adalah tujuan selanjutnya. Kami ingin melewati hari-hari bersama dalam rumah yang dipenuhi oleh bunga-bunga cinta yang telah kami semai dan akan terus dipupuk setiap hari. Kebersamaan dalam setiap derap langkah kami dan ayunan tangan yang selalu bepelukan erat.

Anak pertama kami beri nama I Gusti Ngurah Gede Wipra Ragawa, cukup panjang seperti nama orang Bali pada umumnya, yang mana maksud dari nama ini adalah ’orang yang memberikan pengaruh kebijaksanaan’. Semoga putra kami nantinya bisa menjadi seperti namanya yang diberikan. Jika kami uraikan perkata dari nama tersebut, kurang lebih artinya seperti berikut:

I = anak laki-laki (Bali)

Gusti Ngurah = Nama dari keturunan keluarga

Gede = Urutan Kelahiran anak Pertama (Bali)

Wipra = Bijaksana

Ragawa = Rama (nama lain dari Rama dalam Ramayana)

Dengan berat 4,7 kg dan panjang 53 cm adalah kesan ketenangan dan kedamaian yang terpancar dari wajahnya saat pertama kali melihatnya, seketika semoga selalu dianugerahi kesehatan dan keselamatan, doa yang terucapkan pertama kali.

Terima kasih tuhan atas anugerahMu, putera pertama kami telah lahir dengan sehat dan selamat demikan juga dengan bundanya semoga kami selalu dituntun dalam menjalani kehidupan selanjudnya.

Dan pada tanggal 28 Oktober 2009 pukul 06.56 WITA anak kami yang kedua telah lahir. Dimana saya sedang berada di Lombok untuk tugas dari kantor. Dengan penuh rasa penasaran dan rasa was was saya berusaha secepatnya dapat pulang ke Bali untuk segera bertemu mereka.

Akhirnya saya tiba di Bali pada siang harinya dan bertemu mereka sudah berada di kamar. Terpancar kerinduan akan kehadiran saya dari bundanya dan anak kami yang kedua sedang terlelap dengan damainya. Terima kasih Tuhan, syukur kami panjatkan semoga kami dapat menjalani kehidupan selanjutnya dengan selalu dalam bimbingan dan anugerahMu. Semoga rumah cinta kami akan tetap dan bersemi selamanya berlandaskan rasa sayang dan damainya cinta yang dibalut rasa syukur kepadaMU.

Anak kedua kami beri nama I Gusti Ngurah Made Palawa Manahita. Kami ambil dari bahasa Kawi yang kurang lebih artinya ’selalu dilandasi oleh pikiran yang baik’.

I = anak laki-laki (Bali)

Gusti Ngurah = nama keluarga

Made = urutan kelahiran anak kedua (Bali)

Palawa = sehalai daun yang dipakai sebagai dasar dalam upacara

Manahita = Manah artinya pikiran, Hitta artinya bahagia atau damai.

Lahir dengan berat 4,2 Kg dan panjang 54 cm semoga akan tumbuh menjadi seperti harapan kami sebagai orang tua yang kami tuangkan dalam pemberian namanya.

Terima kasih atas semua bantuan dan dukungannya kepada semua temanz, rekan dan tentunya keluarga kami yang selalu mendampingi dalam persalinan dan setiap perjalanan keluarga kami. Semoga kebahagiaan selalu datang dari segala penjuru.


Hepi life